Just another free Blogger theme

Senin, 02 Februari 2026

 

1. Landasan Hukum: Pembukaan UUD 1945 Alinea I 

  • Bunyi Teks: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."
  • Keterkaitan: Alinea ini menjadi dasar konstitusional mutlak bagi Indonesia untuk mendukung Palestina. Selama Palestina dijajah, Indonesia wajib menentangnya karena bertentangan dengan dasar negara, perikemanusiaan, dan perikeadilan. 

2. Implementasi Amanat Bung Karno

Bung Karno menegaskan, "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel"

  • Keterkaitan: Pernyataan ini adalah wujud konkret dari perintah Pembukaan UUD 1945. Soekarno menerjemahkan prinsip anti-penjajahan menjadi aksi diplomatik:
    • Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955: Menolak partisipasi Israel karena dianggap negara penjajah.
    • Asian Games 1962: Tidak memberikan visa kepada kontingen Israel.
    • Anti-Imperialisme: Keluar dari PBB pada 1964 sebagai protes atas dukungan PBB terhadap kolonialisme. 

3. Amanat Alinea IV: Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia

  • Bunyi Teks: "...dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial."
  • Keterkaitan: Mendukung Palestina merdeka adalah cara Indonesia memenuhi komitmen sebagai warga dunia yang aktif menciptakan perdamaian, bukan hanya berdiam diri melihat penjajahan. 

4. Konsistensi Sejarah (Komitmen Anti-Kolonialisme)

  • Keterkaitan: Hubungan ini melampaui pemerintahan. Komitmen Bung Karno (sejarah) dan Pembukaan UUD 1945 (hukum) berpadu menjadi sikap konsisten Indonesia—dari era Soekarno hingga hari ini—untuk mengakui kedaulatan Palestina dan menolak segala bentuk zionisme/penjajahan di tanah Palestina. 

Kesimpulan:
Dukungan Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar hubungan emosional atau keagamaan, melainkan amanat hukum dan moral yang diwariskan oleh UUD 1945 dan dijalankan secara konsisten sejak masa Bung Karno

Kamis, 08 Januari 2026

Ini ayahku, namanya Yudi Karsono. Lahir pada Kamis Legi, 08 Februari 1968 di Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Lahir dari Mbah Uti bernama Sangidah, dan Mbah Kung bernama Wiryawiroji Sapan. Buyut Uti bernama Sawinten, dan Buyut Kung bernama Tirtomunawi.
Ayahku seorang Pegawai Negeri Sipil yang bekerja sebagai Guru SD. Ia diangkat menjadi guru pada tanggal 1 Maret 1991. Ia menjadi guru di sebuah desa terpencil bernama Sirau Kecamatan Karangmoncol. 

Ini ibuku, namanya Nurhidayati. Lahir pada Kamis Kliwon, 4 Januari 1973 di Dukuh Kedungjampang Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Ia lahir dari Mbah Uti bernama Khotimah, dan Mbah Kung bernama Rasidin atau Ach. Rosyidin. Ibuku mempunyai 1 saudara laki-laki bernama Nurhakim. Pak Gedhe Nurhakim tinggal di RT 22 Dusun V Desa Karangreja.


Selasa, 06 Januari 2026

 

Neurosain merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang struktur dan fungsi otak, serta bagaimana otak mempengaruhi perilaku dan kognisi (Gazzaniga, 2004). Dalam konteks pendidikan anak usia dini, neurosain dapat digunakan untuk memahami bagaimana anak-anak belajar dan mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional mereka (Shonkoff & Phillips, 2000).

 

Penelitian neurosain telah menunjukkan bahwa otak anak-anak usia dini memiliki plastisitas yang tinggi dan dapat berubah secara signifikan sebagai hasil dari pengalaman dan lingkungan (Huttenlocher, 2002). Hal ini berarti bahwa pendidikan anak usia dini dapat memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak-anak.

 

Kajian literatur menunjukkan bahwa ada beberapa prinsip neurosain yang dapat digunakan dalam pendidikan anak usia dini, antara lain:

 

1. Neuroplastisitas: Otak anak-anak usia dini memiliki kemampuan untuk berubah dan adaptasi sebagai hasil dari pengalaman dan lingkungan (Huttenlocher, 2002).

2. Pengalaman awal: Pengalaman awal anak-anak usia dini dapat mempengaruhi perkembangan otak dan kemampuan kognitif mereka melalui proses neurogenesis dan sinaptogenesis (Shonkoff & Phillips, 2000).