Just another free Blogger theme

Minggu, 04 Juli 2021


Presentasi tentang Interaksi Guru - Murid, Kesenjangan antar Generasi dalam Penguasaan Teknologi Informasi:




Kamis, 01 Juli 2021

Orang menganggap hidup ini menjadi ajang pergulatan antara taat dan maksiat. Pada saat seseorang taat maka ia akan merasakan bahwa itu sesuatu yang indah. Sesuatu yang indah bagi mata akan memberi rasa senang, seperti ada pemandangan alam di depan matanya, rumput hijau, aliran air sungai, kicau burung yang meloncat kesana kemari. Kesunyian juga menjadi indah, di antara ilalang yang masih basah oleh embun. Ia sedang membekukan perasaannya. 



Cover Syiffa Syahla




Putus atau Terus 

aku sedang bertanya tanya
tentang perasaan kita
benarkah kita saling mencinta
atau hanya pernah saling cinta

bukankah kamu juga merasa
dingin mulai menjalari percakapan kita
pertanyaan kamu sedang apa
terkesan hanya sebuah formalitas saja

coba tanyakan lagi pada hatimu
apakah sebaiknya kita putus atau terus
kita sedang mempertahankan hubungan
atau hanya sekedar menunda perpisahan

bukankah kamu juga merasa
dingin mulai menjalari percakapan kita
pertanyaan kamu sedang apa
terkesan hanya sebuah formalitas saja

coba tanyakan lagi pada hatimu
apakah sebaiknya kita putus atau terus
kita sedang mempertahankan hubungan
atau hanya sekedar menunda perpisahan

bila kamu tanya aku maunya apa
aku mau kita terus bersama

coba tanyakan lagi pada hatimu
kita sedang mempertahankan hubungan
atau hanya sekedar oooh
hanya sekedar menunda perpisahan


Sabtu, 26 Juni 2021


RUMAH DI MIMPIMU

rumahmu
terletak di pinggir kali kecil
dengan air yang jernih mengalir
gemercik suaranya
di antara bebatuan
di depan beranda
ada pohon-pohonan
tidak terlalu besar
tidak terlalu kecil
ada tempat memandang
tempat yang jauh
tempat berarak awan
sampai ke kaki langit,
sebagaimana
panembahan senopati
memandang horizon
dan di samping
ada beberapa ayam jantan
yg berkokok lantang
saat fajar menggugah lelap,
lalu di samping kiri
ada domba-domba jantan
di sayap kanan rumah
tanaman-tanaman dengan bunga
yang harum,
dan seterusnya
....

Purbalingga, 21 Juni 2019



Rabu, 23 Juni 2021

Ketika ditanya siapa namamu? Ia menjawab pendek, namaku Syifa. Nama yang cantik secantik orangnya. Ini bukan waktu bermain, kok dia ada di sini, di tempat mencuci motor dan mobil. Dia asyik mencuci motor orang. Tampak serius sekali dengan pekerjaannya. 

"Kamu tidak sekolah, Syifa?" tanyaku.

Syifa hanya menggeleng. Ia melanjutkan bersih-bersih motor. Ambil sampo kemudian mencampurnaya dengan air. Kemudian mengaduk-aduknya.

"Kamu tidak sekolah, Syifa?" tanyaku.

Ia menjawab dengan gelengan kepala. Sesekali menyeka keningnya yang terganggu oleh rambutnya. Anak yang aneh. Mencuci motor itu umumnya dikerjakan pekerjaan lelaki. Pekerjaan itu tidak mudah. Harus membersihkan bagian-bagian yang kotor di bagian yang sulit, bagian bawah mesin, bagian dalam slebor, bawah jok, dan lainnya. 

Dua orang temannya laki-laki remaja mungkin lulusan Sekolah Menengah Atas. Satu laki-laki tampak tato di lengannya. 


Minggu, 20 Juni 2021

 


PERTEMUAN MAHASISWA
WS Rendra

Matahari terbit pagi ini mencium bau kencing orok di kaki langit, melihat kali coklat menjalar ke lautan, dan mendengar dengung lebah di dalam hutan. Lalu kini ia dua penggalah tingginya. Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan. Kita bertanya : Kenapa maksud baik tidak selalu berguna. Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga. Orang berkata " Kami ada maksud baik " Dan kita bertanya : " Maksud baik untuk siapa ?" Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina Ada yang bersenjata, ada yang terluka. Ada yang duduk, ada yang diduduki. Ada yang berlimpah, ada yang terkuras. Dan kita di sini bertanya : "Maksud baik saudara untuk siapa ? Saudara berdiri di pihak yang mana ?" Kenapa maksud baik dilakukan tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya. Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota. Perkebunan yang luas hanya menguntungkan segolongan kecil saja. Alat-alat kemajuan yang diimpor tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya. Tentu kita bertanya : "Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?" Sekarang matahari, semakin tinggi. Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala. Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya : Kita ini dididik untuk memihak yang mana ? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan ? Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok. Dan rembulan akan berlayar. Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda. Akan hidup di dalam bermimpi. Akan tumbuh di kebon belakang. Dan esok hari matahari akan terbit kembali. Sementara hari baru menjelma. Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan. Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra. Di bawah matahari ini kita bertanya : Ada yang menangis, ada yang mendera. Ada yang habis, ada yang mengikis. Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana ! Jakarta 1 Desember 1977 Potret Pembangunan dalam Puisi

 



SEBATANG LISONG
WS Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung
(Yang Muda Yang Bercinta 1977)