"Pesta Babi: Kolonialisme di
Zaman Kita" adalah
film dokumenter investigatif tahun 2026 karya sutradara Dandhy Dwi Laksono
dan Cypri Paju Dale. Judul film ini menggunakan metafora filosofis
"babi" untuk mengkritik keserakahan para pemegang kekuasaan dan
pemodal yang berpesta pora di atas penderitaan rakyat.
Secara garis besar, film ini
menyampaikan protes keras terhadap perampasan tanah adat dan kehancuran
lingkungan di Papua Selatan akibat proyek industri skala besar.
Berikut adalah ringkasan pesan
utama yang disampaikan dalam film tersebut:
1. Pembangunan yang Meminggirkan
Masyarakat Adat
- Topeng
"Ketahanan Pangan": Mengkritik Proyek Strategis Nasional
(seperti food estate, industri sawit, tebu, dan bioetanol) yang
menggunakan narasi swasembada pangan dan transisi energi sebagai
pembenaran untuk menggusur jutaan hektare hutan ulayat.
- Ancaman
Ruang Hidup:
Menunjukkan bagaimana suku-suku asli di Papua Selatan (seperti Marind,
Yei, Awyu, dan Muyu) kehilangan hutan, sungai bersih, serta sumber pangan
tradisional (sagu) yang menjadi urat nadi kehidupan mereka.
2. Kolonialisme Gaya Baru
(Nekolim)
- Monopoli
Korporasi:
Mengungkap bahwa konsesi lahan raksasa di Papua dikuasai oleh segelintir
konglomerat dan perusahaan besar.
- Aliansi
Penguasa-Pengusaha: Menyoroti bagaimana negara melanggengkan "kolonialisme zaman
kita" dengan memprioritaskan kepentingan investor di atas hak asasi
manusia.
3. Kritik terhadap Praktik
Militerisme
- Kekerasan
Fisik dan Trauma:
Menggambarkan penggunaan aparat militer untuk mengamankan jalannya proyek
investasi, yang berujung pada intimidasi, kekerasan, serta pemiskinan
struktural terhadap masyarakat setempat.
- Dampak
Berlapis bagi Perempuan: Memperlihatkan bagaimana hilangnya hutan
adat menghancurkan peran perempuan Papua sebagai penjaga pangan keluarga
dan membuat mereka rentan terhadap diskriminasi.
4. Penegasan Identitas:
"Papua Bukan Tanah Kosong!"
- Simbol
Perlawanan:
Menampilkan aksi masyarakat adat menancapkan salib-salib merah di tanah
leluhur mereka sebagai simbol perlawanan dan keteguhan menolak ekspansi
korporasi.
- Suara
yang Diredam:
Melalui pelarangan dan pembubaran acara nonton bareng (nobar) di
berbagai daerah, film ini mengirim pesan bahwa ada kenyataan pahit di
Papua yang berusaha ditutupi dari mata publik.
0 komentar:
Posting Komentar