Just another free Blogger theme

Jumat, 22 Mei 2026

 

"Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" adalah film dokumenter investigatif tahun 2026 karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Judul film ini menggunakan metafora filosofis "babi" untuk mengkritik keserakahan para pemegang kekuasaan dan pemodal yang berpesta pora di atas penderitaan rakyat.

Secara garis besar, film ini menyampaikan protes keras terhadap perampasan tanah adat dan kehancuran lingkungan di Papua Selatan akibat proyek industri skala besar.

Berikut adalah ringkasan pesan utama yang disampaikan dalam film tersebut:

1. Pembangunan yang Meminggirkan Masyarakat Adat

  • Topeng "Ketahanan Pangan": Mengkritik Proyek Strategis Nasional (seperti food estate, industri sawit, tebu, dan bioetanol) yang menggunakan narasi swasembada pangan dan transisi energi sebagai pembenaran untuk menggusur jutaan hektare hutan ulayat.
  • Ancaman Ruang Hidup: Menunjukkan bagaimana suku-suku asli di Papua Selatan (seperti Marind, Yei, Awyu, dan Muyu) kehilangan hutan, sungai bersih, serta sumber pangan tradisional (sagu) yang menjadi urat nadi kehidupan mereka.

2. Kolonialisme Gaya Baru (Nekolim)

  • Monopoli Korporasi: Mengungkap bahwa konsesi lahan raksasa di Papua dikuasai oleh segelintir konglomerat dan perusahaan besar.
  • Aliansi Penguasa-Pengusaha: Menyoroti bagaimana negara melanggengkan "kolonialisme zaman kita" dengan memprioritaskan kepentingan investor di atas hak asasi manusia.

3. Kritik terhadap Praktik Militerisme

  • Kekerasan Fisik dan Trauma: Menggambarkan penggunaan aparat militer untuk mengamankan jalannya proyek investasi, yang berujung pada intimidasi, kekerasan, serta pemiskinan struktural terhadap masyarakat setempat.
  • Dampak Berlapis bagi Perempuan: Memperlihatkan bagaimana hilangnya hutan adat menghancurkan peran perempuan Papua sebagai penjaga pangan keluarga dan membuat mereka rentan terhadap diskriminasi.

4. Penegasan Identitas: "Papua Bukan Tanah Kosong!"

  • Simbol Perlawanan: Menampilkan aksi masyarakat adat menancapkan salib-salib merah di tanah leluhur mereka sebagai simbol perlawanan dan keteguhan menolak ekspansi korporasi.
  • Suara yang Diredam: Melalui pelarangan dan pembubaran acara nonton bareng (nobar) di berbagai daerah, film ini mengirim pesan bahwa ada kenyataan pahit di Papua yang berusaha ditutupi dari mata publik.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar