Just another free Blogger theme

Rabu, 22 Juli 2015

       Idul Fitri membawa kegembiran bagi semuanya. Seolah-olah keberkahan turun dari langit dan keluar dari dalam bumi. Anak-anak sangat ceria menyambut hari raya, seperti juga orangtua mereka. Tahun ini perayaan sedikit berbeda, suara mercon bersahut-sahutan setelah berakhirnya waktu magrib. Langit berpendar-pendar dengan mercon dan kembang api. Suaranya bersahut-sahutan mempermainkan perasaan.
       Hampir sebulan kaum muslimin berpuasa menahan lapar dan dahaga, kini mereka diberi kesempatan untuk bersenang-senang untuk merayakan pesta kemenangan itu. Bakda magrib setelah memasuki 1 Syawal dimana-mana suara takbir, tahlil dan tahmid berkumandang. Sepertinya ini memang hari bersenang-senang.
       Di tempat yang berbeda, kendaraan mudik hampir memenuhi jalan raya, motor, mobil, angkutan umum berlomba-lomba menuju satu tempat seperti diberi komando oleh sesuatu yang tak lain dan tak bukan adalah keinginan untuk berkumpul, bertemu, melepas rasa rindu dengan sanak famili, handai tolan dan kampung halaman. Lihatlah bermacam-macam barang bawaan ada pada kendaraan mereka, yang motor diberi bagasi tambahan dengan batang dan ranting kayu seadanya, kemudian tas besar diikat dengan tali rafia. Bagian depan bapak jadi navigator, tengan si kecil dan si kecil, lalu tengah lagi, dan paling belakang tas besar. Nuansanya benar-benar setengah darurat. Dan pemandangan ini hampir berulang setiap tahun.
       Idul Fitri yang dimaknai kembali pada kesucian merupakan hari raya kemenangan. Pada hakekatnya yang namanya kemenangan akan menerbitkan kegembiraan, rasa suka cita, dan semangat untuk meraih yang lebih baik lagi. Puasa hampir sebulan telah me-refresh semangat hidup, gairah hidup untuk berkarya, agar lebih hebat lagi. 
       Mereka yang menyempatkan diri pulang dari  rantau membawa hasil jerih lelahnya ke kampung halaman, ada isteri, anak-anak, motor, mobil, segepok uang, dan berbagai kesuksesan lainny. Hari raya Idul Fitri 1436 Hijriyah telah berlalu, kue-kue, ketupat, opor ayam sudah tak disajikan lagi di atas meja makan. Hari-hari apa adanya, kembali pada rutinitas meniti hari-hari sambil terus berusaha menggapai yang terbaik.

Jumat, 16 Juli 2010

PGRI Kabupaten Purbalingga bidang informasi dan komunikasi mengadakan pelatihan internet bagi guru mulai hari Kamis, 15 Juli 2010 sampai dengan 17 Juli 2010. Tempat pelatihan di SMA Muhammadiyyah 1 Purbalingga, Jalan Alun-alun Selatan.
Pelatihan ini sangat bermanfaat biar para guru nggak gaptek. Peserta berasal dari seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Purbalingga dengan jumlah 50 orang dibuat 2 kelas.
Pelatihan gelombang II akan dilaksanakan 2 gelombang. Gelombang I 15-17 Juli 2010, gelombang II 19-21 Juli 2010 berlangsung di tempat yang sama.
Materi yang disampaikan antara lain:
Hari I: pengenalan software dan hardware, cara menggunakan internet dan registrasi e-mail,Praktik penggunaan e-mail, cara menelusur dengan search engine dan cara mendownload, cara mengorganisir informasi yang telah diunduh dengan word processing.
Hari II:Pengenalan web blog dan registrasi, Prinsip2 pembuatan website, Presentasi hasil pembuatan webblog.
Hari III: Pengenalan program presentasi, Praktik pembuatan bahan presentasi untuk mengajar berdasarkan hasil penelusuran di internet. Sosialisasi Open Source Software (OSS),, Penutupan.
Pelatihan ini terselenggara berdasarkan program kerja PGRI Kabupaten Purbalingga bidang Infokom. Peserta merasa memperoleh banyak ilmu dan pengalaman baru dengan dunia maya. Paling tidak bila gurunya pintar, muridnya tentu akan seperti gurunya. Setuju?




Selasa, 16 Maret 2010

Lihat dunia seperti permainan belaka
Tak ada yang istimewa
ukuran-ukuran kebahagian dibuat oleh manusia
ada yang mengukur berdasarkan mobil yang dimiliki
jabatan yang disandang
kecantikan
uang yang banyak
harta yang tersimpan di mana saja

Sedangkan Paijo
yang tak punya sesuatu yang banyak
ia merasa senang ketika perutnya terisi
bahagia bila kedua anaknya bisa bayar sekolah
dari mulutnya tak berhambur kata
Ia hidup bersama nurani
ia jarang sekali berbohong
karena ia tak merasa bahagia bila berbohong
ia mati berdiri seandainya korupsi

karena ia merasa ada dari tiada
dan kembali kepada yang ada
Di tahun 2010 ini aku sungguh bergembira dan merasa suka cita karena telah dapat menggapai sebagian cita-cita.

Selasa, 15 Desember 2009


Sebagian orang berburu nilai UN/UASBN yang tinggi tetapi melupakan proses untuk mencapainya. Tidak dipungkiri segala yang instan kini sudah merambah berbagai lini kehidupan, bukan hanya dunia kuliner yang menyajikan makanan-makanan instan, pada dunia pendidikan pun ada praktik instan yang dilabelkan sebagai mutu pendidikan. Sebagian orang yang yang menyuarakan bahwasannya ujian nasional itu perlu perbaikan di sana-sini merupakan jalan tengah daripada menghapuskannya sama sekali, meskipun hal ini tentu mengecewakan mereka yang tidak setuju dengan adanya UN/UASBN. Praktik instan berdasarkan pengalaman penulis yang telah menjadi pendidik selama 18 tahun yakni adanya tradisi les-les menjelang ujian dengan tujuan nilai UN/UASBN tertinggi, karena nilai UN/UASBN tetringgi menjadi simbol kesuksesan seorang siswa.
Seorang kepala sekolah disorot kurang berhasil membawa kemajuan sekolah bila nilai UN/UASBN tidak memuaskan, meskipun prestasi lain memuaskan sebagai contoh prestasi olahraga, seni, teknologi tepat guna atau lainnya. Mereka yang masih beranggapan bahwa nilai UN dan UASBN adalah segalanya itulah yang harus segera bertaubat nasuha. Mosok peserta didik kita mau dihakimi dengan angka-angka hasil UN/UASBN, kasihan kan? Itulah yang barangkali yang menjadi pemikiran bersama, bagimana memperbaiki UN/UASBN ke depan.