Just another free Blogger theme

Minggu, 03 Juli 2022

Menyapa Pagi


apa ini 
nyaris seperti bahasa 
yang belum kumengerti
ada angin 
yang menerpa 
menerbangkan asa
ada ilalang
dan debu yang diam 
atau suara-suara
yang melolong
ada wajah mural 
pada senyum tanpa warna
yang tergores pada kanvas 
berat kuterjemahkan
begitu tak jelas
perjalanan ini
seperti hari-hari
yang pergi
tak kembali 
kapan singgah
melepas lelah
untuk mendengarkan
nyanyian burung kecil 
entah ke mana
semua harus kumengerti
sungguh tak kumengerti







 

Minggu, 29 Mei 2022

 

Hai, sungai Aare ….
Kamu harus membaca kembali kisah masa lalu,
Dan merenungkan isinya,
Yakni kisah yang tak lekang oleh waktu
Saat sungai Nil merasa perlu membalas surat khalifah Umar,
Dengan mengalirkan airnya untuk mencukupi para petani,
Untuk bertanam gandum dan seterusnya,
Umar mengingatkan sungai Nil,
Bahwa kamu bukanlah kamu yang menciptakan
Kamu bukanlah kamu yang berkuasa mengalirkan jutaan kubik air
melintas, menembus gurun, sabana,  lembah berkelok, dan tanah tak bertuan
Kamu hakikatnya mengalirkan air karena izin Allah
Bukan atas kehendakmu,
Kamu mengalir atas izin Allah,
Niscaya air akan terus mengalir,
Kamu harus mengerti apa yang khalifah Umar tuliskan,
Pada secarik kertas padamu beliau tujukan
Ini tentang korespondensi Yang Mulia dengan sebuah sungai,
Ya, kamu, yang tengah pongah sekian lama,
Dipuja dengan persembahan nyawa gadis cantik perawan
Kamu saatnya insyaf, hai, sungai
kepada siapa kamu harus menyerahkan diri
Agar airmu tetap mengalir sampai jauh ….
Hai, sungai Aare ...
kalau kamu benar-benar rekan sejawat Nil,
Maka kembalikanlah putra dari Gubernur kami,
Yang hanyut terbawa arus yang mengalir pada dirimu,
Semoga, kamu menunjukkan jiwa muliamu
Atas izin Allah Yang Maha Kuasa,
Semoga kamu memahami harapan-harapan kami menjadi nyata,
Terima kasih.
Purbalingga 29052022




Jumat, 27 Mei 2022

Rumah kecil di pinggir kali itu tampak sepi. Lampu lima watt yang sudah redup itu temaram tak menjangkau gelapnya kebun bambu di sebelah sisi barat rumah itu. Suara-suara yang tidak jelas sering bersahutan dekat rumah itu. Jeritan walangsangit seperti senandung pilu kelana malam mencari tempat singgah. Rumah dengan satu pintu itu hanya dilalui orang-orang tertentu. Tak jelas siapa yang dimaksud orang-orang tertentu itu. Wajahnya kadang enggan diketahui, tampak dari jaket yang dilengkapi penutup kepala selalu menyertai kehadirannya. Langkahnya juga sangat hati-hati. Nyaris tak ada bunyi kerikil yang terinjak. Tak juga terdengar derit engsel pintu depan, atau suara percakapan di antara ruang dalam rumah itu. 


Siapa penghuni rumah di pinggir kali itu? Seperti laki-laki yang sudah berumur setengah abad lebih. Hidup sebdiri karena ditingggal mati sang isteri. Tiga anaknya sudah pergi semua. Satu perempuan di Jakarta, dua yang laki-laki pergi merantau menjadi TKI di Arab.  Tapi ketiga anaknya itu tidak jelas nasib dan ceritanya. Laki-laki setengah baya itu jarang sekali nongol dan berinteraksi dengan tetangganya.  







Dieng

di pelataran candi Arjuna
saat arjuna memicingkan mata
mengira ada senyum cinta
yang tertuju padanya
tetapi itu hanyalah fatamorgana
yang hadir bersama kabut 
beriringan menyusuri
lembah para pertapa
di sana,
di lembah belerang si kidang
gejolak panas 
seperti jiwanya saat kehilangan arah
menyusuri hidup yang menyengat hati
seperti belerang yang menyumbat rasa
dan wajah-wajah yang dipotret berkali-kali
dengan kamera beresolusi tinggi
dengan senyum bidadari
gaya selebgram yang cantik
seperti bintang drama Korea
atau bintang iklan dari Filipina
yang berkulit halus bagai mutiara
semua bergaya,
lenggok sana lenggok sini
lirik sana lirik sini
dongak sana dongak sini
semua dengan ekspresi bahagia
apalagi dengan topi-topi cantik
dan bekal lipstik
sambil menyusuri jembatan kayu
sambil ketawa-ketiwi
ngerumpi
berseloroh
tentang teman-temannya yang lucu
dan mudah ditipu
....

Dieng, 16052022
 


 Sang Waktu

semua sudah tahu tentang cerita ini,
bahwa ada sesuatu dari waktu yang kita lalui
waktu yang diciptkan untuk menjelajah ruang dan jarak
perhatikan, matahari yang kemarin hadir bersama pagi semarak
pasti akan kau jumpai lagi di pagi hari ini
dan itu dari matahari yang sama yang dulu menyapa
pada pagi yang sama, dan berpamitan pada waktu yang sama
siang yang sama, senja yang sama, malam yang sama
kembali pada pagi yang sama,
sedangkan yang berubah, barangkali kulitmu yg kemarin glowing
tampak mulai berkerut, menua, layu
artinya kita akan tetap bertemu di suatu waktu dan suatu tempat
pada pagi yang sama, siang yang sama, senja yang sama,
berpamitan untuk berkhalwat dalam sebuah keabadian
akhirnya waktu, ia telah meruntuhkan semua yg pongah ....

purbalingga 23052022




Rabu, 25 Mei 2022



Tersenyum menandakan seseorang masih memberi respon sebuah stimulus. Ada berbagai makna senyum. Senyum itu seperti sepotong lidah. Saat kecut muncullah senyum kecut. Saat pahit maka muncullah senyum pahit. Mungkin ada juga senyum karena kelebihan garam alias keasinan. Seperti seorang ibu lupa menaruh garam pada gelas minum bapak. Itu namanya senyum keasinan. Selain asin, orang menantikan kehidupan yang manis-manis. Kehidupan yang segar, seperti buah-buahan organik yang bikin sehat. Buah mangga, pir, dan anggur yang manis. Tentu manis yang tak terlalu manis atau kurang manis. Manis yang pas tentunya. Kalau terlalu manis akan menjadi sesuatu yang tidak manis. Mungkin ada orang tidak dapat tersenyum manis, meskipun mengalami manisnya kehidupan. Contoh orang yang menderita kencing manis. Apapaun, sekurang-kurangnya dalam hidup ini ada senyum yang pernah menghiasi hidup kita. Manusia hebat. Orang berpikir kapan dikatakan hebat. Atau ia sama sekali tidak berpikir dikatakan hebat atau tidak hebat. Kehebatan kita mungkin disebabkan orang-orang di sekitar kita. Seorang raja, ia tidak mungkin berada di singgasana tanpa ibunya. Pertama, embrio sang raja berada di rahim ibunya, kemudian lahir, disuapi, diceboki, dipeluk, disayang, digadang-gadang dengan senandung doanya sehingga kemudian menjadi raja. Ia tumbuh besar menjadi ksatria gagah perkasa. Tadinya lahir tanpa apa, kemudian ia melihat, mendengar, merasakan, dan mengecap manis air susu ibunya. Dari tidak berdaya menjadi adidaya. Kedua, ia disebut raja karena ada rakyat yang diperintah, yang taat dan mentaatinya, menghormatinya, bahkan membantunya siang malam untuk kebesaran sang raja. Kesuksesan seseorang sangat (mungkin) disebabkan oleh orang lain. Tuhan membuat skenario bahwa manusia itu makhluk sosial. Mungkin andalah yang paling hebat diantara kita, karena pemikiran dan ide-ide cemerlang anda. Mungkin anda diakui, dinobatkan, diproklamasikan sebagai the best. Mungkin anda telah mengisi kekosongan ruang dalam hidup ini, sebagai inisiator, perintis, atau proklamator. Mungkin anda sudah percaya, ada orang lain yang langkahnya tak perlu dihitung, kelelahannya tak perlu disanjung, kecemasannya tak pernah bergaung. Ia seperti seorang pendekar yang datang sebagai malaikat penolong, kemudian pergi tanpa meninggalkan pesan. Percayalah itu pendekar yang memiliki sifat angin. Dapat dirasakan tetapi ia tidak kasat mata. Pendekar tanpa bayangan, yang datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak kaki. Itu sosok luar biasa. Tapi iapun tak kan sehebat itu tanpa guru yang mengajarkan tentang arti ketulusan. Orang yang mengajarinya tentang cara melihat dengan jernih segala sesuatu yang sedang dan telah terjadi. Ia yang telah menyimpan sebuah arsip kehidupan. Dokumen orang-orang yang bergerak karena sebuah idealisme, ketulusan, dan kebersamaan. Orang yang mengabaikan lelah dan getir. Kelelahan dan kebersamaan menjadi bagian dari sukses sebuah acara. Loh, itu apa artinya pendekar tanpa bayangan? Apa hubungannya? Pendekar tanpa bayangan dimaksud adalah orang-orang yang bekerja dilandasi sesuatu yang ada di hati. Ia menyadari bahwa “kerja bareng akan menjadikan greng”!. Kerja bareng yang diikat komitmen. Mungkin komitmen untuk tepat waktu, komitmen untuk saling menopang sisi-sisi yang lemah. Sekumpulan orang yang saling bahu-membahu, saling menggapai tangan, dan mengulurkan tangan. Menjadi orang yang berhasil membersihkan diri dari egoisme dan ingin dilihat. Pendekar tanpa bayangan, dapat dibayangkan, ia tidak memiliki bayangan apapun. Pendekar tanpa bayangan hanya berpikir, bagaimana orang lain dapat tersenyum. Dan kalianlah pendekar tanpa bayangan. Ingat tanpa bayangan, bukan yang lain. (Refleksi Usai Launching dan Bazar Buku di Purbalingga 1 Oktober 2018)