Just another free Blogger theme

Kamis, 22 Februari 2024

 KODE ETIK GURU INDONESIA

Pengertian

Kode etik guru adalah norma atau asas yang harus dijalankan oleh guru di Indonesia sebagai pedoman untuk bersikap dan berperilaku dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai pendidik, anggota masyarakat, dan warga negara.

Pedoman tersebut diharapkan nantinya bisa membedakan perilaku baik atau buruk seorang guru, memilah-milah mana saja hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama menjalankan tugas sebagai seorang pendidik. Keberadaan kode etik ini bertujuan untuk menempatkan sosok guru sebagai pribadi yang terhormat, mulia, dan bermartabat.

Fungsi Kode Etik

Fungsi utama dari kode etik guru adalah menjadi seperangkat prinsip dan norma moral yang mendasari pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam kaitannya dengan peserta didik, orang tua/wali murid, sekolah dan rekan seprofesi, organisasi profesi, dan pemerintah berdasarkan nilai agama, pendidikan sosial, etika, dan kemanusiaan.

Kode etik guru adalah pedoman perilaku yang ditetapkan untuk guru dalam melaksanakan tugas pengajaran. Fungsi kode etik guru antara lain:

  1. Menjaga profesionalisme: Kode etik guru membantu menjaga profesionalisme guru dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Kode etik ini meliputi kualitas pengajaran, kerja sama dengan orang tua dan rekan guru, serta kewajiban guru untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.
  2. Memberikan panduan etis: Kode etik guru memberikan panduan etis yang jelas bagi guru dalam berinteraksi dengan siswa, orang tua, rekan guru, dan masyarakat. Kode etik ini memastikan bahwa guru bertindak secara adil, jujur, dan bertanggung jawab dalam melakukan tugas pengajaran mereka.
  3. Melindungi hak-hak siswa: Kode etik guru melindungi hak-hak siswa, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, hak untuk diperlakukan dengan hormat dan adil, serta hak untuk privasi dan keamanan.
  4. Mendorong kesejahteraan siswa: Kode etik guru mendorong guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung bagi siswa. Guru diharapkan untuk memahami kebutuhan siswa secara individual dan berusaha membantu mereka mencapai potensi penuh mereka.
  5. Meningkatkan reputasi profesi: Kode etik guru membantu meningkatkan reputasi profesi guru secara keseluruhan. Dengan mengikuti kode etik ini, guru dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru dan meningkatkan citra guru di mata publik.
  6. Menjaga integritas dan kepercayaan: Kode etik guru memastikan bahwa guru menjaga integritas dan kepercayaan dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Guru diharapkan untuk menghindari konflik kepentingan, menjaga kerahasiaan informasi siswa, dan menjaga martabat profesi guru.

Dengan menjalankan fungsi-fungsi ini, kode etik guru dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung bagi siswa, serta memperkuat profesion guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan.

Kode Etik Guru Indonesia

  1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya ang berjiwa Pancasila.
  2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
  3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan  melakukan bimbingan dan pembinaan.
  4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.
  5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
  6. Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
  7. Guru memelihara hubungan profesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial.
  8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
  9. Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. 


Selasa, 23 Januari 2024

 1. Cedhak kebo gupak

Bergaul dengan orang jahat nantinya akan tertular menjadi jahat'

2. Dikena iwake aja buthek barryune

Apa yang dimaksud tercapai, tanpa menyebabkan keonaran'

3. Manuk mencok dudu pencokane

Segala sesuatu yang mencurigakan harus dihadapi dengan hatihati'

4. Dicutat kata cacing

Diusir dengan cara yang kejam sekali'

5. Sandhing kiring gudhigen

Begrgaul dengan orang jahat nantinya akan tertular menjadi jahat

6. Nyugokake kayu sempu

Mencalonkan orang yang tidak mempunyai kemampuan'

7. Timun mungsuh duren

Orang lemah bermusuhan dengan orang kuat'

8. Gambret singgang, mrekathak ora ana sing nganei

Perawakan kenes, tetapi tidak ada yang melamar'

9. Ngaup awar-awar

Mengabdi kepada orang melarat

10. Giri lusi, janma tan kena kinira

Tidak boleh menghina sesama manusia'


Kamis, 18 Januari 2024

Asumsi = dugaan

Eskalasi = kenaikan

Personal Branding = Citra Diri

Intuisi = kata hati

Temporary = Sementara

Komprehensif = Menyeluruh

Justifikasi = Pembenaran

Skeptis = ragu-ragu

Performa = penampilan

Paradigma = pola pikir

Ekspetasi = pengharapan

Progresi = kemajuan

Kausalitas = sebab akibat

Kredibel = dapat dipercaya

Personalitas = Kepribadian 

Probabilitas = Kemungkinan

Superioritas = Keunggulan

Ilusi = Khayalan

Fenomenal = luar biasa

Komplementer = bersifat saling mengisi/melengkapi






medang = menata sudut pandang


 Akhir-akhir ini bapak ibu guru dan kepala sekolah heboh dengan pengisian SKP pada PMM. Regulasi baru yang awalnya terdengar samar-samar, ujug-ujug datang dan harus segera diselesaikan. Bagus itu. Aturan baru dengan sosialisasinya yang sangat minim langsung diterapkan. Banyak guru kelimpungan. Mungkin tidak bagi guru penggerak yang selalu mengumandangkan slogan: bergerak dan menggerakkan. 

Pengelolaan Kinerja berbasis system memang keren. Tetapi kalau system tersebut ujug-ujug berlaku bersama bapak ibu guru yang selama ini waktunya habis di kelas, sepertinya tidak fair. Ekspektasi di sana barangkali terbayang membanggakan tetapi realitas di sini membuat semuanya bersedih. Bapak-ibu guru sama sekali tidak dapat tertawa, tetapi hanya mengernyitkan kening. Kok, gini ya? 

Teknologi itu untuk membahagiakan manusia. Teknologi diciptakan manusia sama sekali tidak untuk membuat orang bersedih apalagi kalau akhirnya memperbudak manusia, menyusahkan manusia. Itu harus dibuang jauh-jauh. Semua teknologi itu untuk membahagiakan bukan sebaliknya. Pertanyaannya: apakah e-kinerja PNS yang diluncurkan Kemengpan RB dan Kemendikbudristek itu membahagiakan PNS, khususnya bapak/ibu guru dan kepala sekolah? Coba, dijawab dengan jujur dan objektif.



Rabu, 27 Desember 2023

Sepatu bertali warna hitam yang kelihatan lusuh tetapi kuat dan tahan lama. Menjadi teman dan pelindung kakinya yang cekatan dalam setiap langkah. Lama ia bersamanya dalam suka dan duka. Ia selalu bersamanya dari ke hari ke hari, menjadi saksi bisu prestasinya di sebuah sekolah.

Melihat sepatu hitam bertali yang tampak kusut dan berdebu, dan alasnya sudah bolong, mata pak guru tampak lembab. Ada sesuatu membasahi bola matanya, mengingat sepatu itu menjadi saksi bisu perjalanan suka dan duka muridnya yang bernama Rizki. Sepatu ini menjadi saksi saat Rizki menempuh sebuah jalan berlumpur ke sekolah yang jauh dari ujung perbukitan. Jalan tanah yang lengket berliku dan mendaki. Rizki setiap ke sekolah harus melangkahkan kaki menempuh jalan becek, apalagi saat hujan deras.  

Sepatu hitam bertali yang belepotan lumpur berada di sudut ruang dalam suasana sepi. Sesekali terdengar suara angin yang mempermainkan daun-daun di luar rumah dinas guru. Pak guru menatap bangga bercampur haru menatap sepatu itu. Sepatu yang cukup berumur, sepertinya selama ia bersekolah sampai hampir tamat.

Pak guru tersenyum sambil mengingat perjalanan panjang sepatu hitam bertali itu. Sepatu tersebut bukan sekadar alas kaki biasa; ia adalah saksi bisu dari setiap langkah yang telah diambil oleh pemiliknya, seorang siswa bernama Rizki.

Rizki, murid yang bersemangat, seringkali menjadi pusat perhatian di sekolah. Sebagai ketua kelas dan pencetak prestasi dalam berbagai pertandingan dan perlombangan, langkahnya selalu penuh dedikasi. Sepatu hitam bertali itu telah menyusuri lorong-lorong sekolah, melewati tangga-tangga menuju kelas-kelas, dan menghadiri berbagai acara sekolah.

Namun, hari ini, sepatu itu terlihat berbeda. Lumpur yang menempel di permukaannya menjadi tanda bahwa Rizki baru saja mengalami petualangan di luar. Mungkin ia berusaha menyelamatkan kucing kecil yang terjebak di semak belukar, atau mungkin ia terlibat dalam proyek lingkungan untuk membersihkan sungai di sekitar sekolah.

Pak guru, yang selalu mendukung dan menginspirasi Rizki, merasa bangga melihat bukti perjalanan kotor sepatu itu. Ia tahu bahwa setiap noda lumpur menceritakan kisah kebaikan dan dedikasi siswanya. Sepatu itu adalah simbol dari kerja keras, pengabdian, dan semangat positif yang membawa perubahan.

Di sudut ruang sepi itu, suasana hening seolah memberi tempat bagi penghargaan terhadap upaya Rizki. Pak guru merenung sejenak, menghargai setiap langkah yang diambil oleh siswanya dalam menghadapi perjalanan panjang menuju keberhasilan.

Suara angin di luar ruangan semakin menambah keindahan momen tersebut. Sepatu hitam bertali yang belepotan lumpur menjadi saksi bisu dari perjalanan siswa yang tidak hanya mengukir prestasi di buku catatan sekolah, tetapi juga mengukir jejak kebaikan di hati orang-orang di sekitarnya.

Pak guru merenung dalam, merasa bangga dan bersyukur memiliki siswa seperti Rizki di kelasnya. Sepatu hitam bertali, meski belepotan lumpur, adalah bukti nyata bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai dan prestasi, tetapi juga tentang membentuk karakter dan nilai-nilai kebaikan yang akan membimbing siswa menuju masa depan yang cerah.


Senin, 25 Desember 2023

 

Pagi Sang Guru membuka tokonya untuk berjualan. Sore hari ia mengajarkan ilmunya kepada anak-anak. Kelebihannya Sang Guru tidak menjual ilmunya tetapi benar-benar mengajarkan ilmunya dengan niat tulus dan suci. 

Guru di zaman milenial dan generasi Z, mereka mengajar dengan niat mendapatkan upah. Lembaga-lembaga Pendidikan dijadikan tempat bisnis terselubung. Sekolah-sekolah dengan biaya mahal menjadi label strata ekonomi yang naik atau tinggi. Semakin tinggi gengsi maka semakin mahal tempat menuntut ilmu. Kalau model begini maka hilanglah barokahnya ilmu. Ilmu tidak lebih dari material semata. Ilmu sudah kehilangan nilai sejatinya untuk memandu hidup yang selaras, serasi, dan seimbang. Untuk menyelamatkan ini, Pendidikan harus diambil alih oleh negara. Negara harus hadir untuk memberikan Pendidikan kepada rakyatnya. 


 








Sumber: Wikipedia



 

Kehidupan di alam nyata manusia berada dalam dimensi ruang dan waktu. Pada dimensi ruang maka kita mendapati adanya jarak, sehingga manusia tidak dapat mencapai tujuan sebuah tempat tanpa perjuangan membebaskan dirinya dari belenggu jarak. Upaya membebaskan diri dari belenggu jarak manusia menciptakan beragam teknologi transportasi, telekomunikasi, dan informasi.

Pada awal kehidupan tentu ruang ini terasa sangat luas, bahkan menyangka tanpa batas. Langit bersih tanpa noda. Air jernih tanpa limbah racun. Manusia hidup sederhana. Makanan sangat alami. Kuman dan bakteri  belum bermutasi. Manusia belum berproses dalam sebuah keserakahan yang menghancurkan alam sekitar. 
Lingkungan hidup tumbuh kembang liar dan hanya seleksi alam yang membatasi. Manusia berkembang beranak pinak dan menyebar ke seantero bumi untuk menaklukan alam. Manusia tidak hanya sekadar bertahan hidup tetapi bagaimana mengatur dan mengendalikan kehidupan. Akal manusia yang memulai untuk menjadikan lingkungan hidup sesuai kehendak dirinya, berpihak kepada dirinya, menguntungkan dirinya. 
Hidup manusia selalu memburu kehidupan yang nyaman, aman, dan kalau dapat hidup abadi ...! Tetapi hidup abadi itu sesuatu yang belum ditemukan formulanya.

Sumber: Wikipedia